PERINGATAN HARDIKNAS

SUKARAJA, Pada Hari Sabtu – Minggu tanggal 12-13 Mei 2018 –  Badan Eksekutif Mahasiswa (Kementrian Pendidikan)  Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan sukses mengadakan peringatan HARDIKNAS. Dengan tema “Implementasi dan filosofi ajaran ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan zaman now”. Berbagai acara dilaksanakan, yaitu Bedah Buku Ki Hadjar Dewantara (pendidikan), dengan menghadirkan dua narasumber, Ust. Dedy Mardiansyah, M.Pd (ketua IKANUHA Se- Nusantara) dan Ustdz. Lailalatul Fitriyah, S. S, M. Pd ( Kaprodi PBSI STKIP NURUL HUDA SUKARAJA) dilanjut dengan Seminar kepemimpinan dan Tertib administrasi OMIK (organisasi Mahasiswa Intra Kampus), oleh Bapak Sirojul Muntholib, M. Pd. I (wakil ketua II STKIP NURUL HUDA SUKARAJA).

Acara Bedah Buku

Yang mana BEM STKIP Nurul Huda Sukaraja juga berkolaborasi dengan Program Studi pendidikan Bahasa Inggris dalam memeriahkan acara tersebut. Sebuah program tahunan yang diselenggarakan pada hari ke dua yaitu “The 2nd English Competitiondengan beberapa perlombaan (Sing “Song”, speech,  dan poetry) yang diiikuti oleh seluruh mahasiswa STKIP NURUL HUDA SUKARAJA. Dan ada sebuah  perlombaan yaitu seni tari, yang dibuka untuk umum dari tingkat SLTP dan SLTA/sederajat. Yang mana para pemenang diberikan sertifikat dan uang pembinaan.

Pose Para Pemenang Lomba

Pose Para Pemenang Lomba

Inti sari yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah mengajak seluruh mahasiswa untuk selalu berperan aktif dalam perkembangan pendidikan, agar jangan samapai terpapar sengkuni, belanda, dan nilai yang tidak sesuai dengan perguruan tinggi, apalagi dengan STKIP yang notabennya dibawah naungan pondok pesantren Nurul Huda Sukaraja. Untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi perikehidupan bersama, menurut Ki Hadjar Dewantara “haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat”. Oleh karena itu, wajiblah kita menyelidiki segala kekurangan dan kekecewaan dalam hidup. Oleh karena tiap-tiap negara itu terjadi dari beberapa golongan yang masing-masing mempunyai sifat dan kepercayaan sendiri-sendiri, haruslah kita memahamkan perbedaan-perbedaan golongan itu agar terwujudlah azas persatuan yang selaras (harmonis) dan menurut keadaan (naturlijk).

Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan. Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar pada kekuatan sendiri. Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggauta dari persatuan (rakyat). (Dewantara, 1977 : 3-4). Melalui pendidikan Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia hendaknya tidak memakai syarat paksaan. Karena itu perkataan “opvoeding” atau “paedagogiek” lebih relevan maksudnya dengan “Momong”, “Among”, dan “Ngemong”.

Itulah sejatinya dasar pendidikan nasional yang tidak menggunakan cara memaksa. Bahkan, untuk hanya sekedar memimpin, tindakan memaksa itu juga terkadang tidak perlu. Sebagai orang tua, menurut Ki Hadjar Dewantara, tindakan mencampuri urusan anak didik diharuskan kalau sudah ternyata mereka berada di atas jalan yang salah. Sebab dasar pendidikan nasional Indonesia adalah “orde en verde” (tertib dan damai, “tata”-‘tentram”). Hidup tertib dan damai itu tujuan pendidikan nasional yang digariskan Ki Hadjar Dewantara. Dan  system itu adalah pesantren. Sementara Pesantren Nurul Huda Sukaraja telah memulai langkah pendidikan yang tertib dan damai itu lewat Salafiyah Plusnya. Dimana STKIP sebagai Unit Pendidikan Plus tertinggi NURUL HUDA SUKARAJA telah tertib berkemajuan. Terwujud dengan kegiatan para santri dimana mereka adalah mahasiswa memiliki kegemaran dengan kegiatan literasi dan liturgasi. Berkah khidmah jama’ah senantiasa.

Panitia Pelaksana

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *